Antara Kritik Kapitalisme, Keterbatasan Filsafat, dan Tujuan Hidup Hakiki


Kritik tajam sosiolog Prancis, André Gorz, mengungkap realitas kelam masyarakat modern: "Kapitalisme membuat kita sibuk bekerja, agar kita lupa bertanya untuk apa kita hidup." Dalam sistem kapitalistik, manusia terus-menerus terjebak dalam rutinitas kerja dan konsumerisme hingga kehilangan ruang tenang (idle time) untuk merenungi arti keberadaannya. Bagi Gorz, solusi ideal adalah mencapai otonomi waktu—kebebasan dari dominasi pasar agar individu dapat menentukan makna hidupnya sendiri.

Namun, jika dibandingkan dengan pandangan Islam, terdapat perbedaan mendasar pada fondasi utamanya:

  • Perspektif Gorz (Subjektif/Antroposentris): Tujuan hidup dirumuskan sendiri oleh akal manusia demi meraih kemerdekaan individu di dunia. Kerja dipandang sebagai potensi eksploitasi yang harus dikurangi.

  • Perspektif Islam (Objektif/Teosentris): Tujuan hidup telah ditentukan oleh Allah SWT. Kemerdekaan sejati dicapai bukan dengan menjadi "tuan atas diri sendiri", melainkan dengan membebaskan diri dari perbudakan materi untuk menjadi hamba Allah ('Abdullah). Kerja yang halal dinilai sebagai ibadah selama dilakukan secara seimbang (Tawazun).

Meskipun Islam dan Gorz sama-sama menentang materialisme dan eksploitasi manusia, pemikiran filsafat murni seperti milik Gorz tetap memiliki batas yang tegas. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa para Imam Mazhab klasik (Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi'i, dan Ahmad) sangat mewaspadai filsafat metafisika dan Ilmu Kalam spekulatif.

Para ulama tidak melarang logika atau nalar rasional dalam urusan praktis (Ushul Fiqh dan muamalah). Peringatan keras tersebut ditujukan pada kecenderungan filsafat Yunani yang mencoba mendefinisikan Tuhan, alam gaib, dan hakikat keberadaan hanya dengan akal murni tanpa bimbingan wahyu. Akal manusia diciptakan terbatas dan tidak dirancang untuk menembus hal-hal transendental; mengandalkannya secara mutlak hanya akan menghasilkan spekulasi tanpa akhir.

Pencapaian para pemikir besar memang mengagumkan dalam menguliti kebobrokan sistem sosial, tetapi filsafat hanya mampu mendiagnosis masalah tanpa pernah sampai pada hakikat tujuan penciptaan yang sebenarnya. Jawaban mutlak atas teka-teki eksistensi manusia telah ditegaskan secara lugas dalam Al-Qur'an:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)

Filsafat berada jauh dari kebenaran mutlak karena hanya bersandar pada logika manusia yang rapuh. Oleh karena itu, petunjuk wahyu Ilahi harus tetap menjadi kompas utama kehidupan untuk membimbing manusia menuju kebebasan sejati dan keselamatan di dunia maupun akhirat.


Bagaimana Pendapatmu? Baca lebih lengkapnya : Filsafat

Posting Komentar untuk "Antara Kritik Kapitalisme, Keterbatasan Filsafat, dan Tujuan Hidup Hakiki"